Skip to content

YAYASAN PAKUNCARA

Manunggal Budaya, Mukti Kreasi

  • Home
  • Pengurus Yayasan
  • Home
  • Kolom
  • PAKUNCARA Dorong Masjid Agung Kartasura Menjadi Ikon Religius dan Pusat Peradaban Berbasis Sejarah Jawa

PAKUNCARA Dorong Masjid Agung Kartasura Menjadi Ikon Religius dan Pusat Peradaban Berbasis Sejarah Jawa

Posted on October 9, 2026October 9, 2026 By admin No Comments on PAKUNCARA Dorong Masjid Agung Kartasura Menjadi Ikon Religius dan Pusat Peradaban Berbasis Sejarah Jawa
Kolom

KARTASURA — Yayasan PAKUNCARA Gunung Kunci menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan religiusitas, penguatan identitas sejarah, dan pembangunan peradaban masyarakat Kartasura melalui keterlibatan dalam forum Public Lecture bertema “Pembangunan Masjid Kartasura sebagai Ikon Baru Kartasura yang Religius.” Forum ini digelar oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Mas Said Surakarta pada Jum’at 9 Oktober 2026, acara ini menjadi ruang dialog strategis bagi akademisi, ulama, sejarawan, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan untuk merumuskan arah pengembangan masjid yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, kebudayaan, pemberdayaan masyarakat, dan peradaban Islam.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh penting, di antaranya Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta Prof. Dr. H. Toto Suharto, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Mas Said Surakarta sekaligus Pembina Yayasan PAKUNCARA Gunung Kunci Prof. Dr. M. Rahmawan Arifin, sejarawan Jawa Anang Haris, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sukoharjo KH. Dr. Abdullah Faishol, serta tokoh masyarakat Kartasura dan pengurus PBNU KH. Miftah Faqih.

Forum ini juga dihadiri Kanjeng Rio Aryo Kuncoro Adiningrat, Tri Wahyudi selaku sesepuh Yayasan PAKUNCARA, Asep Maulana Rohimat selaku Ketua Yayasan PAKUNCARA Gunung Kunci, KH. Miftahul Huda selaku Ketua HEBITREN Solo Raya, perwakilan Kementerian Agama, serta sejumlah tokoh masyarakat Kartasura.

Keterlibatan PAKUNCARA dalam forum tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sinergi antara nilai-nilai religiusitas, warisan sejarah, pendidikan, dan pengembangan kawasan. PAKUNCARA memandang pembangunan Masjid Kartasura sebagai momentum untuk memperkuat karakter masyarakat sekaligus menghidupkan kembali kesadaran bahwa Kartasura memiliki warisan sejarah dan kebudayaan yang penting dalam perjalanan peradaban Jawa.

Prof. Rahmawan Arifin Gagas Integrasi Wisata Religi, Pendidikan, Sejarah, dan Ekonomi Kreatif

Dalam sambutan sekaligus bertindak sebagai moderator, Prof. Dr. M. Rahmawan Arifin menyampaikan gagasan mengenai pengembangan kawasan Kartasura melalui pendekatan wisata terintegrasi. Menurut gagasan yang disampaikan dalam forum tersebut, pembangunan masjid perlu ditempatkan dalam ekosistem kawasan yang menghubungkan fungsi keagamaan, pendidikan tinggi, pelestarian sejarah, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Integrasi tersebut diarahkan untuk menghubungkan empat elemen utama, yakni Masjid Kartasura, kampus UIN Raden Mas Said Surakarta, Petilasan Keraton Kartasura, dan Pasar Tempo Doeloe Gunung Kunci Kartasura. Keempatnya memiliki karakter yang berbeda, tetapi berpotensi saling melengkapi dalam membangun pengalaman wisata dan pembelajaran yang bermakna bagi masyarakat maupun pengunjung.

Masjid dapat menjadi pusat kegiatan ibadah, pendidikan Islam, dan penguatan kehidupan sosial keagamaan. Kampus berperan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, riset, inovasi, dan pendampingan masyarakat. Petilasan Keraton Kartasura menghadirkan dimensi sejarah dan kebudayaan, sedangkan Pasar Tempo Doeloe Gunung Kunci membuka ruang bagi pengembangan ekonomi kreatif, UMKM, kuliner tradisional, dan aktivitas ekonomi berbasis komunitas.

Gagasan ini menempatkan pembangunan kawasan tidak semata-mata sebagai proyek fisik, tetapi sebagai proses membangun ekosistem yang menghubungkan spiritualitas, pengetahuan, identitas lokal, dan kesejahteraan masyarakat.

Bagi PAKUNCARA, gagasan tersebut sejalan dengan upaya pengembangan kawasan Gunung Kunci melalui kegiatan Pasar Tempo Doeloe serta penguatan potensi heritage Kartasura. Sinergi kawasan diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam pelestarian budaya, pengembangan destinasi, dan penciptaan nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Rektor UIN Raden Mas Said: Pentahelix Menjadi Kunci Pembangunan Kartasura

Dalam keynote speech, Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. H. Toto Suharto, mengangkat pentingnya pendekatan pentahelix dalam pembangunan Kartasura. Pendekatan ini menekankan kolaborasi antara unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas masyarakat, dan media untuk mewujudkan pembangunan yang melibatkan berbagai pihak.

Dalam konteks pembangunan Masjid Kartasura, kolaborasi tersebut dibutuhkan agar proses pembangunan tidak berhenti pada penyediaan bangunan dan fasilitas ibadah. Masjid perlu dirancang sebagai pusat peradaban yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, baik dalam aspek spiritual, pendidikan, sosial, kebudayaan, maupun pemberdayaan ekonomi.

Rektor juga menekankan pentingnya kehadiran perguruan tinggi dalam merumuskan identitas, nama, dan program pengembangan masjid. Keterlibatan kampus diperlukan agar pengembangan masjid memiliki landasan keilmuan, orientasi pendidikan, serta program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Dengan demikian, hubungan antara kampus dan masjid dapat berkembang menjadi kemitraan yang produktif. Kampus menyediakan dukungan akademik dan pengembangan gagasan, sedangkan masjid menjadi ruang aktualisasi nilai-nilai keilmuan melalui pelayanan keagamaan dan kegiatan sosial kemasyarakatan.

Dalam kerangka pentahelix, PAKUNCARA memandang bahwa pembangunan Masjid Kartasura juga memerlukan partisipasi aktif organisasi masyarakat, komunitas pelestari sejarah, pelaku UMKM, tokoh agama, dan generasi muda. Kolaborasi tersebut penting untuk memastikan bahwa masjid tumbuh sebagai milik bersama yang merepresentasikan identitas dan cita-cita masyarakat Kartasura.

Sejarawan Jawa: Kartasura Memiliki Posisi Penting dalam Sejarah Kekuasaan Jawa

Materi kuliah umum yang disampaikan sejarawan Jawa, Anang Haris, menggarisbawahi posisi Kartasura dalam sejarah sebagai salah satu pusat kekuasaan Jawa. Latar sejarah tersebut memberikan konteks penting bagi pembangunan masjid yang diharapkan menjadi ikon baru kawasan.

Menurut pemikiran yang disampaikan dalam forum, pembangunan Masjid Kartasura perlu memperhatikan karakter historis wilayahnya. Kartasura bukan sekadar ruang geografis, melainkan kawasan yang menyimpan jejak perjalanan kekuasaan, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat Jawa.

Karena itu, pembangunan masjid berpotensi menjadi kesempatan untuk menghubungkan kehidupan keagamaan masa kini dengan kesadaran sejarah masyarakat. Pengembangan masjid dapat disertai penyusunan narasi sejarah, program edukasi, dokumentasi, serta kegiatan kebudayaan yang memperkenalkan karakter Kartasura kepada generasi muda.

Anang Haris juga menekankan perlunya kontribusi besar dari UIN Raden Mas Said Surakarta dalam pengembangan masjid tersebut. Peran perguruan tinggi dapat diwujudkan melalui penelitian sejarah, kajian arsitektur dan kebudayaan, penyusunan program pendidikan, serta pendampingan masyarakat.

Keterlibatan akademisi diharapkan dapat membantu memastikan bahwa pembangunan masjid tidak terlepas dari konteks sosial dan historis Kartasura. Dengan begitu, masjid dapat menjadi ruang yang mempertemukan tradisi keislaman, kebudayaan Jawa, dan perkembangan masyarakat modern.

Bagi PAKUNCARA, kesadaran sejarah merupakan salah satu fondasi penting dalam pengembangan kawasan heritage. Pembangunan yang berorientasi pada masa depan perlu berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap warisan masa lalu agar identitas lokal tetap terpelihara di tengah perubahan sosial dan ekonomi.

KH. Abdullah Faishol: Masjid Harus Menjadi Pusat Peradaban Masyarakat

Perspektif keagamaan dan sosial kemasyarakatan disampaikan oleh Ketua MUI Kabupaten Sukoharjo, KH. Dr. Abdullah Faishol. Dalam pemaparannya, masjid ditempatkan sebagai pusat peradaban yang mempunyai peran besar dalam membangun kualitas kehidupan masyarakat.

Masjid tidak cukup hanya menjadi tempat pelaksanaan salat dan kegiatan ibadah rutin. Masjid juga dapat berfungsi sebagai ruang pembelajaran, penguatan akhlak, pengembangan kepedulian sosial, dan pembentukan masyarakat yang memiliki orientasi pada kemaslahatan bersama.

Peran tersebut menjadi semakin penting ketika pembangunan masjid ditempatkan dalam konteks masyarakat Kartasura yang mempunyai latar sejarah dan identitas budaya yang kuat. Masjid diharapkan mampu menjadi titik temu berbagai kelompok masyarakat, sekaligus ruang untuk memperkuat persaudaraan, toleransi, dan semangat gotong royong.

Gagasan masjid sebagai pusat peradaban juga membuka peluang bagi penyelenggaraan program pendidikan keagamaan lintas generasi, pemberdayaan keluarga, kegiatan sosial, pembinaan generasi muda, serta penguatan literasi keislaman yang kontekstual.

Dalam kerangka tersebut, pembangunan fisik masjid perlu disertai perencanaan tata kelola dan program yang berkelanjutan. Keberhasilan masjid tidak hanya diukur dari kemegahan bangunannya, tetapi juga dari kualitas pelayanan, aktivitas keilmuan, dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

KH. Miftah Faqih: Masjid adalah Titik Berangkat Suluk Peradaban

Tokoh masyarakat Kartasura sekaligus pengurus PBNU, KH. Miftah Faqih, menyampaikan gagasan bahwa masjid merupakan titik berangkat suluk peradaban. Gagasan ini menempatkan masjid sebagai ruang awal bagi perjalanan spiritual sekaligus pembentukan kehidupan masyarakat yang beradab.

Dalam pandangan tersebut, pembangunan peradaban harus berangkat dari nilai-nilai keagamaan yang diwujudkan melalui tindakan nyata. Masjid menjadi ruang untuk menumbuhkan kesadaran spiritual, membangun karakter, memperkuat hubungan sosial, dan mendorong masyarakat mengambil peran dalam perubahan lingkungan sekitarnya.

KH. Miftah Faqih juga menekankan pentingnya tiga bentuk kesadaran yang perlu dimiliki masyarakat Kartasura.

Pertama, kesadaran terhadap sejarah. Masyarakat perlu memahami perjalanan panjang Kartasura beserta berbagai peristiwa dan warisan yang membentuk karakter wilayah tersebut. Kesadaran sejarah membantu masyarakat mengenali akar identitasnya dan menempatkan diri sebagai bagian dari perjalanan antargenerasi.

Kedua, kesadaran terhadap makna identitas. Sejarah perlu diterjemahkan menjadi pemahaman mengenai siapa masyarakat Kartasura, nilai apa yang diwariskan, dan karakter apa yang ingin dibangun untuk masa depan. Identitas lokal tidak sekadar simbol atau kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab untuk merawat warisan budaya dan mengembangkan kehidupan masyarakat yang bermartabat.

Ketiga, kesadaran tindakan. Pengetahuan sejarah dan pemahaman identitas harus diwujudkan melalui tindakan konkret. Masyarakat perlu mengambil bagian dalam kegiatan keagamaan, pelestarian sejarah, pendidikan, pengembangan ekonomi lokal, dan berbagai upaya yang memberikan manfaat bagi lingkungan sosialnya.

Ketiga kesadaran tersebut relevan dengan arah pengembangan Masjid Kartasura. Masjid diharapkan menjadi ruang yang mempertemukan refleksi spiritual, pembelajaran sejarah, pembentukan identitas, dan tindakan sosial.

KH. Miftah Faqih juga mengingatkan bahwa Kartasura merupakan kota tua yang memiliki nilai historis kuat, termasuk narasi yang berkaitan dengan tokoh-tokoh dalam sejarah Jawa, seperti Panembahan Senopati, Hadiwijaya atau Jaka Tingkir. Narasi tersebut menjadi bagian dari kekayaan sejarah yang perlu dikaji, didokumentasikan, dan diperkenalkan secara bertanggung jawab kepada masyarakat.

Usulan Nama Masjid Kartasura Adiningrat dan Penguatan Ornamen Budaya Jawa

Salah satu gagasan yang mengemuka dalam forum Public Lecture adalah usulan penggunaan nama Masjid Kartasura Adiningrat. Usulan ini mencerminkan aspirasi untuk menghadirkan identitas masjid yang memiliki keterkaitan dengan karakter historis Kartasura.

Nama tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara fungsi religius masjid dan identitas sejarah kawasan. Namun, penetapan nama tetap memerlukan pembahasan, pertimbangan, dan keputusan dari pihak-pihak yang memiliki kewenangan dalam proses pembangunan dan pengelolaan masjid.

Selain usulan nama, forum juga menyoroti pentingnya menghadirkan ornamen budaya Jawa dalam rancangan arsitektur masjid, baik pada bagian interior maupun eksterior. Unsur budaya tersebut dapat menjadi penanda karakter lokal yang membedakan Masjid Kartasura dari bangunan masjid di kawasan lain.

Penggunaan ornamen Jawa perlu dirancang secara proporsional dengan tetap memperhatikan fungsi utama masjid, kaidah arsitektur, kenyamanan jamaah, dan kebutuhan ruang ibadah. Pendekatan ini membuka peluang untuk mengintegrasikan nilai estetika budaya lokal dengan fungsi religius dan kebutuhan masyarakat kontemporer.

Identitas arsitektur dapat diperkuat melalui detail ornamen, pengolahan ruang, motif dekoratif, serta elemen visual yang memiliki keterkaitan dengan tradisi Jawa. Proses perancangannya idealnya melibatkan arsitek, akademisi, ahli sejarah dan budaya, ulama, serta perwakilan masyarakat.

Dengan demikian, masjid tidak hanya hadir sebagai bangunan baru, tetapi juga membawa pesan tentang perjumpaan Islam dan kebudayaan Jawa dalam perjalanan sejarah Kartasura.

PAKUNCARA Hadir dalam Perumusan Identitas Masjid dan Pengembangan Kawasan Kartasura

Keterlibatan Yayasan PAKUNCARA Gunung Kunci dalam forum ini menunjukkan perhatian organisasi terhadap pengembangan Kartasura secara menyeluruh. PAKUNCARA tidak hanya berfokus pada pengembangan potensi kawasan Gunung Kunci, tetapi juga mendorong sinergi dengan berbagai inisiatif yang berkaitan dengan sejarah, kebudayaan, religiusitas, dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam konteks pembangunan Masjid Kartasura, PAKUNCARA mengambil bagian dalam dialog mengenai identitas masjid, penguatan karakter lokal, serta peluang integrasi kawasan. Keterlibatan tersebut menjadi ruang bagi organisasi masyarakat untuk menyampaikan perspektif komunitas dan mendorong pembangunan yang berorientasi pada kemaslahatan.

Ketua Yayasan PAKUNCARA Gunung Kunci, Asep Maulana Rohimat, bersama unsur pembina, sesepuh yayasan, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya, hadir dalam forum yang mempertemukan berbagai perspektif tentang masa depan Kartasura.

Bagi PAKUNCARA, penguatan religiusitas dan pelestarian sejarah bukanlah dua agenda yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya dapat saling mendukung dalam membentuk karakter masyarakat yang memiliki fondasi spiritual, memahami identitas lokal, dan mampu mengembangkan potensi wilayahnya.

Masjid dapat menjadi pusat kegiatan religius dan pendidikan masyarakat, sementara kawasan heritage menyediakan ruang pembelajaran sejarah. Kampus berkontribusi melalui riset dan inovasi, sedangkan komunitas dan pelaku usaha menggerakkan partisipasi serta aktivitas ekonomi lokal.

Keterhubungan tersebut berpotensi menciptakan ekosistem pembangunan yang lebih inklusif. Masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat dari pembangunan infrastruktur, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan, kebudayaan, pariwisata, dan ekonomi kreatif.

Menghubungkan Masjid, Petilasan Keraton, Kampus, dan Pasar Tempo Doeloe Gunung Kunci

Gagasan wisata terintegrasi yang mengemuka dalam forum membuka peluang bagi Kartasura untuk mengembangkan model kunjungan yang memadukan wisata religi, wisata sejarah, pendidikan, dan ekonomi kreatif.

Masjid Kartasura dapat menjadi salah satu titik utama kegiatan keagamaan dan edukasi. UIN Raden Mas Said Surakarta dapat berkontribusi melalui program kuliah umum, riset, pengabdian kepada masyarakat, dan pengembangan literasi sejarah. Petilasan Keraton Kartasura dapat menjadi ruang untuk memahami perjalanan sejarah kawasan, sementara Pasar Tempo Doeloe Gunung Kunci dapat menghadirkan pengalaman kuliner tradisional, produk lokal, dan aktivitas ekonomi berbasis komunitas.

Dalam skema tersebut, wisata tidak hanya dipahami sebagai kegiatan mengunjungi tempat tertentu. Wisata juga menjadi sarana untuk mengenali sejarah, memahami kebudayaan, memperkuat pengalaman spiritual, dan berinteraksi dengan kehidupan masyarakat setempat.

Integrasi kawasan juga dapat membuka peluang bagi UMKM untuk memperoleh manfaat ekonomi dari meningkatnya aktivitas pengunjung. Produk kuliner, kerajinan, cendera mata, dan berbagai produk kreatif lokal dapat dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata yang memiliki karakter khas Kartasura.

Namun, pengembangan tersebut membutuhkan perencanaan yang matang, termasuk koordinasi antarpengelola, penyusunan narasi kawasan, penguatan akses informasi digital, peningkatan kualitas pelayanan, dan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.

PAKUNCARA dapat mengambil peran melalui penguatan komunitas, pengembangan aktivitas ekonomi kreatif di Gunung Kunci, serta fasilitasi kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan sesuai kapasitas organisasi. Pengembangan kawasan juga perlu memperhatikan pelestarian nilai sejarah, tata kelola lingkungan, dan penghormatan terhadap fungsi utama setiap lokasi.

Dengan pendekatan tersebut, Kartasura memiliki peluang untuk membangun identitas destinasi yang tidak hanya mengandalkan satu objek, melainkan menawarkan pengalaman kawasan yang saling terhubung.

Sinergi PAKUNCARA dan HEBITREN Solo Raya untuk Kemaslahatan Masyarakat

Kehadiran KH. Miftahul Huda selaku Ketua HEBITREN Solo Raya dalam kegiatan ini turut memperlihatkan pentingnya hubungan antara pengembangan kehidupan keagamaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Sebagai jejaring ekonomi pesantren, HEBITREN Solo Raya memiliki ruang kontribusi dalam penguatan ekonomi berbasis komunitas dan nilai-nilai keislaman. Sementara itu, PAKUNCARA mendorong pengembangan kawasan Gunung Kunci melalui kegiatan yang menghubungkan warisan lokal, partisipasi masyarakat, dan ekonomi kreatif.

Pertemuan kedua perspektif tersebut membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Masjid sebagai pusat peradaban dapat menjadi tempat tumbuhnya kegiatan pendidikan, kepedulian sosial, dan pembinaan masyarakat. Di sisi lain, kegiatan ekonomi masyarakat dapat dikembangkan sebagai bagian dari ikhtiar mewujudkan kemaslahatan yang lebih luas.

Sinergi ini tidak berarti mencampuradukkan fungsi masjid dengan aktivitas komersial, melainkan membangun hubungan yang saling mendukung antara kehidupan spiritual dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Penguatan UMKM, pendidikan kewirausahaan, kegiatan sosial, dan pengembangan ekonomi berbasis nilai Islam dapat menjadi bagian dari agenda pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan, dengan tetap menjaga martabat, fungsi, dan tata kelola masing-masing lembaga.

Membangun Kartasura sebagai Kota Religius yang Berakar pada Sejarah

Forum Public Lecture bertema pembangunan Masjid Kartasura memberikan pesan penting bahwa pembangunan kota tidak cukup dilakukan melalui pembangunan fisik. Diperlukan pula pembangunan kesadaran, identitas, kelembagaan, dan partisipasi masyarakat.

Masjid yang dikembangkan sebagai pusat peradaban dapat berperan dalam memperkuat nilai keagamaan, membentuk karakter generasi muda, dan mendorong kepedulian terhadap persoalan sosial. Sementara itu, penguatan identitas sejarah dapat membantu masyarakat memahami keunikan Kartasura dan mengembangkan potensi lokal secara lebih terarah.

PAKUNCARA memandang bahwa pembangunan Masjid Kartasura merupakan salah satu momentum untuk memperkuat kolaborasi antarelemen masyarakat. Pemerintah, perguruan tinggi, tokoh agama, komunitas sejarah, organisasi masyarakat, pelaku usaha, dan media perlu memiliki ruang komunikasi yang berkelanjutan agar berbagai gagasan dapat diterjemahkan menjadi program nyata.

Usulan nama Masjid Kartasura Adiningrat, penguatan ornamen budaya Jawa, serta gagasan wisata terintegrasi merupakan beberapa pokok pemikiran yang berkembang dalam forum. Seluruh gagasan tersebut masih memerlukan proses pembahasan dan tindak lanjut bersama agar dapat diwujudkan sesuai kewenangan, kebutuhan masyarakat, dan arah pembangunan kawasan.

Bagi PAKUNCARA, cita-cita membangun Kartasura sebagai kawasan yang religius, berbudaya, dan produktif harus disertai tindakan nyata. Penguatan kegiatan keagamaan, pelestarian sejarah, pengembangan ruang publik, pemberdayaan UMKM, serta pendidikan masyarakat dapat menjadi bagian dari proses panjang tersebut.

Melalui keterlibatan dalam forum ini, Yayasan PAKUNCARA Gunung Kunci menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang kolaborasi dalam pengembangan Kartasura. Harapannya, pembangunan Masjid Kartasura tidak hanya melahirkan ikon baru secara fisik, tetapi juga menghadirkan pusat peradaban yang memperkuat spiritualitas, merawat identitas sejarah, menghidupkan budaya, dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

PAKUNCARA — Merawat Sejarah, Menguatkan Religiusitas, dan Menggerakkan Kemajuan Kartasura.

Post navigation

❮ Previous Post: Dari Barang Bekas Jadi Karya Spektakuler, Kartasura Siapkan Ethno Carnival di Ambal Warsa ke-346
Next Post: Ratusan Peserta Siap Meriahkan Kartasura Ethno Carnival 2026, Perpaduan Kreativitas Alam dan Kirab Budaya ❯

You may also like

Kolom
Yayasan PAKUNCARA hadir Untuk Bangsa
August 15, 2026
Kolom
Gunung Kunci: When Nostalgia Becomes an Innovation in the Creative Economy
August 15, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Ratusan Peserta Siap Meriahkan Kartasura Ethno Carnival 2026, Perpaduan Kreativitas Alam dan Kirab Budaya
  • PAKUNCARA Dorong Masjid Agung Kartasura Menjadi Ikon Religius dan Pusat Peradaban Berbasis Sejarah Jawa
  • Dari Barang Bekas Jadi Karya Spektakuler, Kartasura Siapkan Ethno Carnival di Ambal Warsa ke-346
  • PAKUNCARA ucapkan Sugeng Ambal Warsa Kartasura ke-346
  • Ambal Warso Kartasura ke-346 Dibuka dengan Umbul Dungo, Warga Teguhkan Komitmen Merawat Kartasura

Categories

  • Berita Kegiatan
  • Kolom
  • Uncategorized

Copyright © 2026 PAKUNCARA.

Theme: Oceanly Green by ScriptsTown